Kolom opini harian Kompas terbitan 21 Januari 2010 memuat tulisan Roch. Basuki yang berjudul: Berakhirnya “Era TNI”.
Penulisan di mulai dengan penilaian
bahwa SBY telah menuntaskan reformasi TNI, karena sekalipun masih ada nama-nama purnawirawan di Kabinet, tetapi
tidak terkait dengan keperkasaan TNI.
Pernyataan ini perlu dikritisi, karena bisa diartikan bahwa model TNI yang ada saat ini adalah bentuk
final dari reformasi TNI.Selengkapnya
Bagi yang merasa berbakat dan ingin jadi talent CITRA
SINEMA, silakan ADD dulu administrator kami DI REPUBLIK PESBUK: kangarief@yahoo.com (ARIEF
GUSTAMAN) dah buruan siape tahu giliran
Anda duet barang Jenderal Naga Bonar,yak..yak..yak..yak..segera kirim biodata
lengkap lewat message (pesan) di republic pesbuk via Arif Gustaman. Terima kasih
TIBA-TIBA saja ”Jenderal Nagabonar” muncul ke medan politik nasional. Ia, yang selama ini hanya hidup di layar perak, menyatakan siap maju dalam pemilihan presiden, Juli mendatang. Deddy Mizwar, sang Nagabonar, mengaku jenuh menjadi tokoh rekaan yang dipersepsikan lugu, jenaka, tapi juga cerdas.
Aktor yang juga akrab dipanggil ”Pak Haji” itu merasa dunia politik Indonesia sudah buntu. Mahkamah Konstitusi melarang calon presiden independen. ”Orangnya itu-itu saja, dan sudah terbukti tak membawa perubahan apa pun,” ujar pria 54 tahun itu.
Deddy tahu peluangnya amat tipis. ”Enggak usah dipikirlah, kita bikin enteng saja, tapi jangan dianggap gampang,” dia menambahkan. Setidaknya, ia ingin membuat orang lebih berpengharapan menyongsong pemilihan presiden. ”Kalau semua orang merasa enggak ada harapan, bisa berantem kita.”
Selengkapnya
Buku "Mengutamakan Rakyat", patut dibaca bukan untuk memperoleh jawaban sakti untuk masadepan tanah air kita, tetapi untuk membuka wawasan dan merenungkan kembali keberadaan Indonesia. Untuk itu pikiran dan renungan harus beralih dulu dari mencari-cari jawaban yang tepat, sayangnya seringkali untuk seribusatu pertanyaan yang keliru atau tidak relevan, ke pertanyaan-pertanyaan yang membuka prespektif baru. Apakah ini monolog seorang Jenderal yang bernama Saurip Kadi atau dialog dengan alter egonya yang bernama Jenar Maulani?
Persyaratan terpenting yang harus dimiliki oleh seorang ksatria ( pemimpin ) adalah berani membela kepentingan orang yang tertindas (rakyat) kendatipun harus mengorbankan jiwanya. Disamping itu seorang pemimpin harus mampu menciptakan harapan ( setting the paradigm ) bagi rakyat yang dipimpinnya. Selanjutnya seorang pemimpin haruslah sudah merasakan kebahagiaan karena tanpa itu dia tidak akan memberikan kebahagian kepada rakyatnya dan bahkan mungkin terjadi pemimpin tersebut akan mengambil kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik rakyat.
Effendi Gazali Koordinator Program Master Komunikasi Politik UI
Mengutamakan rakyat, adalah suatu keharusan! Sama seperti Jarwo Kwat (dalam Kasus 6 Januari 2008-nya), rakyat yang jelas telah menjadi korban jangan lagi dijadikan tersangka (baca: rakyatlah yang selama ini dianggap bersalah, tidak cerdas, tidak rasional, tidak mengikuti petunjuk para pemimpin). Kita merindukan era baru di mana pemimpin yang kuat dengan komunikasi politiknya yang tepat selalu MENGUTAMAKAN RAKYAT, di bibir dan di relung hatinya!
Buku ini mengulas berbagai sisi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di Indonesia pasca reformasi yang banyak coreng morengnya. Banyak potret keterpurukkan kehidupan masyarakat, sistem pemerintahan, sistem politik ataupun kekuasaan dianalisis dengan baik. Bahkan penulisnya juga mencoba memberikan solusi yang dapat mengejutkan kita karena kontroversial, diluar jalur yang biasanya dipakai oleh otoritas Indonesia. Lebih menarik lagi karena ditulis oleh seorang ABRI, Mayor Jendral yang seringkali dipersepsikan "orang lapangan" yang keras, tidak sensitif dengan kehidupan masyarakat.
Pak Saurip Kadi adalah salah satu dari sedikit perwira TNI yang reformis, berfikiran luas dan memahami dinamika sosial dan kenegaraan. Pak Saurip juga memiliki komitment kebangsaan yang tinggi, kesadaran bahwa Indonesia harus menjadi negara berdaulat dalam bidang politik, ekonomi dan militer. Pak Saurip juga sangat prihatin dengan kemerosatan tingkat kesejahteraan rakyat dan sadar betul bahwa TNI harus ikut membantu untuk mewujudkan bangsa dan negara yang sejahtera. Dengan pensiun lebih awal, TNI sesungguhnya kehilangan seorang perwira tinggi pemikir yang penuh dedikasi, loyal dan honorable.
Mayor Jenderal TNI Saurip Kadi adalah prajurit yang sejati. Dia mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi. Pribadinya luar biasa karena dia tahu kapan saat ini ABRI menata dirinya menanggapi proses perubahan jaman. Dia tegar dalam prinsip bahwa TNI harus professional dalam tugasnya. Buku ini mengajak pembaca melihat bagaimana sosok pribadi Mayor Jendral Saurip Kadi yang tegas dan berani mengambil pilihan demi panggilan sejarah.